Posted by: ariefantasista10 | February 26, 2008

Otomatis Romantis, Kisah Pencarian Romantisme Cinta

Otomatis Romantis, Kisah Pencarian Romantisme Cinta

or.jpg
Otomatis Romantis mulai dirilis di sejumlah bioskop mulai 18 Januari 2008.
Judul : Otomatis Romantis
Pemain : Tora Sudiro, Marsha Timothy, Wulan Guritno, Tukul Arwana, Poppy Sovia, Dwi Sasono, Tarzan dan Chintami Atmanegara.
Sutradara : Guntur Soeharjanto
Penulis Naskah : Monty Tiwa
Produksi : ISI Production

Mencari cinta dan jodoh yang ideal, tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Hal ini dirasakan betul oleh Nadia (Marsha Timothy), yang belum juga menemukan pujaan hati hingga usianya 29 tahun.

Tidak ada yang kurang dari diri Nadia. Muda, cantik dan karir yang sukses sebagai jurnalis di sebuah majalah wanita membuatnya menjadi wanita sempurna bagi setiap pria. Sayang, Nadia merasa tak mampu menemukan pasangan yang ideal.

Awalnya, Nadia menikmati kesendiriannya dengan menyibukkan diri. Namun, masalah mulai muncul saat ayahnya (Tarzan) dan ibunya (Chintami Atmanegara) yang sangat kental dengan budaya Jawa, terus menerus menuntutnya segera menikah.

Terlebih lagi, kakak Nadia yaitu Nabila (Wulan Guritno) telah menikah dengan Dave (Tukul Arwana) yang kaya. Keluarga Nabila selalu dipuji dan dijadikan panutan. Bukan hanya itu, adik Nadia yaitu Nana (Poppy Sovia) pun telah memiliki kekasih. Kontan, Nadia menjadi bulan-bulanan di keluarganya.

Tak disangka, muncul seorang pria asal Yogyakarta yang lugu, jujur, dan apa adanya bernama Bambang (Tora Sudiro). Ia bekerja sebagai karyawan bagian administrasi di kantor Nadia.

Perlahan-lahan, Bambang yang selalu tulus dalam melakukan apapun mampu menyentuh hati Nadia. Namun, Nadia yang selalu menganggap dirinya atasan yang harus selalu dihormati merasa gengsi mengungkapkan isi hatinya.

Nabila mencium gelagat adiknya itu. Ia lantas mendukung penuh agar Nadia mengungkapkan isi hatinya pada Bambang, sebelum semuanya terlambat.

Tentunya hal ini berat bagi Nadia yang memiliki sifat angkuh dan tertutup itu. Ia tak bisa langsung berubah cepat layaknya sebuah mesin, tiba-tiba harus “otomatis” menjadi “romantis”.

Sayang, saat Nadia mulai berani dan akan mengungkapkan isi hatinya pada Bambang ia keduluan. Belum sempat bicara, Bambang lebih dulu mengutarakan keinginannya menikahi kekasih Trisno (Dwi Sasono), kakak Bambang, yang ditinggal hamil oleh sang kakak yang tak bertanggung jawab.

Lantas, bagaimana nasib cinta Nadia. Akankah kali ini cintanya gagal lagi dan kembali menjadi bulan-bulanan di keluarganya?

Semua perjalanan Nadia ini tertuang dalam film yang disutradarai Guntur Soeharjanto berjudul Otomatis Romantis.

Dalam Otomatis Romantis, budaya dan idiom-idiom Jawa terasa sangat kental. Misalnya saja, ayah Nadia yang kerap berpatokan dan percaya pada primbon Jawa. Serta mitos-mitos Jawa yang berkaitan dengan perjodohan dan rumah tangga.

Budaya Jawa di film ini juga mempengaruhi gaya bahasa serta lelucon-lelucon yang terlontar. Lelucon yang menghibur namun terkadang terdengar satir.

Selain budaya Jawa, budaya modern dan kebarat-baratan pun hadir di sini. Yaitu pemikiran dan tingkah laku dari Nabila, Nadia dan Nana yang berbenturan dengan pola pikir ayah dan ibunya.

Berbicara mengenai akting, di film ini Tora benar-benar tampak sulit melepaskan “label” Extravaganza dari dirinya. Meski perannya sebagai Bambang, pria Yogya yang lugu dan kocak mampu dimainkan dengan baik, namun karakter Bambang sangat lekat dengan karakter Tora di Extravaganza.

Sedangkan kehadiran Tarzan dan Tukul, kental membawa karakter dan kelucuan-kelucuan khas srimulat ke dalam film karya Monty Tiwa ini.

Terlepas dari itu, Otomatis Romantis merupakan film yang benar-benar menghibur. Jadi, bagi penikmat film yang ingin mencari tontotan lucu dan menghibur serta ringan saksikan Otomatis Romantis.

Selain lucu, film ini pun mampu mengangkat tema dan permasalahan yang sebenarnya mengakar di hampir seluruh keluarga Indonesia. Namun belum sempat diangkat menjadi film. Seperti misalnya, orangtua yang khawatir karena anak gadisnya tidak kunjung menikah dan takut anak gadisnya menjadi perawan tua. Sedangkan, sang anak tetap asyik menikmati karir dan berpikiran modern.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: