Posted by: ariefantasista10 | February 7, 2009

The Duchess, Getirnya Hidup sang Ratu

dp8z0xvy3c

The Duchess adalah pameran indah kostum, tata artistik, dan akting para pemainnya. Tapi bukan untuk cerita dan kualitas naskah.

Ini kisah tentang Georgiana Spencer, istri pertama William Cavendish, Duke kelima dari Devonshire. Ia adalah karakter nyata yang hidup di abad ke-18, masih golongan bangsawan, dan satu garis keturunan dengan Lady Diana Spencer, mantan istri Pangeran William, Prince of Wales.

Namun, jangan bayangkan kalau film besutan Saul Dibb (Bullet Boy) ini adalah gambaran objektif tentang Duchess of Devonshire. Ia hanya cukilan dari kisah cinta sang ratu yang pahit, ada reduksi di sana-sini, hingga akhirnya The Duchess hanya berujung sebagai sebuah film hiburan semata.

Layaknya kehidupan di abad patriarki, jalan hidup seorang perempuan seperti Georgiana (Keira Knightley) sangat mudah ditebak. Umur 17 tahun dia dinikahkan (baca: dijodohkan) dengan Duke of Devonshire, William Cavendish (Ralph Fiennes). Baru saja menikah, masalah sudah muncul.

Georgiana merasa suaminya tak hangat dan lebih sering diperlakukan sebagai mesin pembuat anak saja. Bahkan “tugas sebagai istri” pun “kurang sempurna”, karena Georgiana hanya bisa melahirkan dua anak perempuan, bukan seorang laki-laki yang bisa menggantikan ayahnya menjadi raja.

Saat itulah muncul Elizabeth “Bess” Foster (Hayley Atwell). Awalnya, Bess adalah sahabat Georgiana. Ia menganggap Bess sebagai oase dalam pernikahannya yang kering. Sang Ratu bahkan mengajak Bess tinggal di istana. Dan seperti sudah bisa ditebak, pengkhianatan cinta itu hanya tinggal menunggu waktu saja.

Bess yang sudah memiliki tiga putra, akhirnya menjadi duri yang nyata dalam pernikahan Georgiana-William. Menghadapi itu, Georgiana jelas berontak, tapi toh William adalah raja yang segala titahnya harus dipatuhi. Cahaya hidup Georgiana mulai tumbuh lagi saat ia jatuh cinta dengan Charles Grey (Dominic Cooper), calon perdana menteri yang ia bantu urusan kampanyenya. Affair pun tak mampu dibendung.

Georgiana lantas mengajukan tawaran pada suaminya: ia merestui hubungan suaminya dengan Bess, namun sang suami harus merelakan hubungannya dengan Grey. Jelas, raja meradang. Egonya sebagai laki-laki tertampar, dan terjadilah perkelahian yang berujung pada perkosaan suami terhadap istri. Tapi justru dari situlah Georgiana hamil lagi, dan melahirkan bayi laki-laki.

Tapi toh, penderitaan Georgiana terus berlanjut. Sejak awal, Georgiana memang diplot sebagai tokoh protagonis dalam film ini. Kesengsaraan yang dijatuhkan bertubi-tubi padanya, disusun sedemikian rupa, hingga jalan hidupnya di film The Duchess mirip kisah perempuan sengsara dalam opera sabun. Harapannya tentu saja, semua penonton akan jatuh iba dan bersimpati padanya.

Sayang, pilihan untuk “menyengsarakan” Georgiana dan mengambil fokus cerita pada kisah cintanya, membawa konsekuensi lain. Gambaran tentang perempuan bangsawan paling terkenal di Inggris pada masanya ini menjadi tak utuh. Kebiasaan Georgiana yang gemar berjudi, yang sudah menjadi rahasia umum dalam sejarah, hanya ditampilkan sekilas, itu pun lebih mirip pelampiasan dari kehidupan pernikahannya yang carut-marut daripada sebuah kebiasaan buruk.

Bahkan, kelihaiannya di bidang politik maupun sosoknya yang dicintai rakyat (mirip dengan “keahlian” yang dimiliki kerabatnya, Lady Di) hanya ditampilkan sebagai tempelan saja. Memang, naif rasanya jika mengharapkan gambaran utuh seorang fitur melalui film yang terbatas durasinya. Tapi jika penulis skenario mau lebih serius menggarap naskahnya, tentu sisi lain ini bisa jadi pendamping yang melengkapi image tentang Georgiana.

Tentu saja, membuat The Duchess bisa lebih dari sekadar film hiburan mengharu biru, yang ceritanya bisa ditemui di banyak film lain (salah satunya The Other Boleyn Girl, yang juga berlatar kerajaan Inggris dan dibintangi aktris-aktris kelas satu).

sumber : okezone.com


Responses

  1. waw.. good movie.. harus nonton neh.. makasih resensinya ya…….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: